Tuesday, January 20, 2026

Toleransi dalam Islam


 Prinsip toleransi yang ditawarkan Islam dan ditawarkan sebagian kaum muslimin sungguh sangat jauh berbeda. Sebagian orang yang disebut ulama mengajak umat untuk turut serta dan berucap selamat pada perayaan non muslim. Namun Islam tidaklah mengajarkan demikian. Prinsip toleransi yang diajarkan Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah dan berhari raya tanpa mengusik mereka. Senyatanya, prinsip toleransi yang diyakini sebagian orang berasal dari kafir Quraisy di mana mereka pernah berkata pada Nabi kita Muhammad,

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425).


Allah Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama.


Referensi: Rumayshoh


https://rumaysho.com/5673-toleransi-dalam-islam.html

Proporsi antara Ikhtisar dan Tawakal


 Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalAllâh kepada Allâh, sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya) [Ali 'Imrân/3:159].


Tawakkal adalah termasuk amal yang agung dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakal

Di sisi lain, agama Islam sangat menganjurkan dan menekankan keutamaan berusaha mencari rezki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga

Bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus menyebutkan keutamaan ini dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ

Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)”

Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan tawakkal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezki yang halal. Bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal merupakan pelanggaran terhadap syariat Allâh Azza wa Jalla, yang menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allâh Azza wa Jalla .

Referensi : almanhaj

https://almanhaj.or.id/14671-tawakal-dan-usaha-bertentangan-2.html

Sholat sebagai tiang agama


 Kedudukan shalat lima waktu dalam agama ini adalah ibarat tiang penopang dari suatu kubah atau kemah. Tiang penopang yang dimaksud di sini adalah tiang utama. Artinya jika tiang utama ini roboh, maka tentu suatu kubah atau kemah akan roboh.

Dari Mu'adz bin Jabal, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“ Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat .” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Referensi: Rumaysho

https://rumaysho.com/5911-shalat-adalah-tiang-agama.html

Peran akhlak dalam membentuk kepribadian


 Kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh akhlaknya. Akhlak yang baik menciptakan identitas diri yang kuat, memungkinkan individu untuk dikenali sebagai pribadi yang bermoral dan beretika. Hal ini penting dalam membangun reputasi baik di masyarakat dan menjalin hubungan sosial yang harmonis.

Akhlak yang baik berfungsi sebagai landasan moral yang kuat bagi individu. Dengan mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang, akhlak membantu seseorang untuk bertindak dengan integritas dalam setiap aspek kehidupannya. Anak-anak yang diajarkan akhlak sejak dini cenderung tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan memiliki karakter yang positif.

Akhlak memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian Muslim yang baik. Melalui pendidikan akhlak yang efektif, individu dapat mengembangkan sikap dan perilaku positif yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pembentukan kepribadian Muslim tidak hanya menjadi tanggung jawab individu tetapi juga merupakan tanggung jawab kolektif masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan akhlak mulia.



Referensi: Kompasiana

https://www.kompasiana.com/ginaapriliya8728/675baffe34777c328a777492/peran-akhlak-dalam-pembentukan-kepribadian-seorang-muslim

Makna hijrah

 

Hijrah merupakan fase penting seseorang untuk memperbaiki diri. Hijrah yang secara harfiah berarti “meninggalkan” merupakan roh yang menjiwai gerakan seorang Muslim. Hijrah kemudian sering kali dimaknai sebagai perpindahan atau peralihan dari satu ke lain kondisi.

Hijrah sendiri sering diambil dari hadits terkenal. Esensi hadits hijrah ini ditangkap oleh ulama fiqih sebagai pesan penting Rasulullah SAW perihal niat seseorang dalam berbuat baik. Hal ini tidak jauh dari pemahaman kalangan sufi yang menempatkan hijrah sebagai kebulatan tekad untuk Allah dan rasul-Nya sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkut ini:

 وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

Artinya, “Perhatiknlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. Renungkan perihal ini bila kau termasuk orang yang memiliki daya paham.”



Referensi: nu online 

https://www.google.com/amp/s/nu.or.id/amp/tasawuf-akhlak/pengertian-hijrah-dalam-kajian-tasawuf-drclQ

Meneladani sifat Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia terbaik yang patut dijadikan panutan, karena setiap aspek kehidupannya mencerminkan akhlak yang luhur dan penuh kebaikan. Akhlak dan sifat terpujinya harus kita teladani untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.


1. Shiddiq (Benar dan Jujur)

Akhlak dan sifat pertama Nabi Muhammad SAW adalah shiddiq, yang berarti "benar" atau "jujur." Makna dari sifat ini adalah bahwa setiap perkataan dan tindakan Rasulullah SAW senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, sehingga pasti selalu benar, jujur, dan terbebas dari segala bentuk kebohongan atau tipuan.


2. Tabligh (Menyampaikan)

Sifat kedua Nabi Muhammad SAW, yaitu tabligh, berarti menyampaikan segala wahyu yang diterima dari Allah SWT. Sebagai rasul, tugas utama beliau adalah memberikan peringatan, membimbing umat, memperbaiki kehidupan, dan membantu manusia mencapai kebahagiaan di dunia serta akhirat.


3. Amanah (Dapat Dipercaya)

Akhlak dan sifat ketiga Nabi Muhammad SAW adalah amanah, yang berarti dapat dipercaya dalam menyampaikan segala hal. Ini berhubungan dengan tugas seorang rasul yang diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk membimbing umat ke jalan yang benar.


4. Fathanah (Cerdas)

Akhlak dan sifat keempat Nabi Muhammad SAW yang penting untuk diketahui adalah fathanah, yang berarti cerdas atau memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan ini, menurut pandangan umum, mencakup kemampuan untuk memahami dunia, berpikir logis, dan memanfaatkan sumber daya dengan bijak ketika menghadapi tantangan.



Referensi: detikhikmah

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6980138/4-sifat-nabi-muhammad-saw-yang-patut-diteladani

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

 




Malam lailatul qadar menurut keyakinan kaum muslim merupakan malam yang penuh dengan keberkahan di dalamnya. Lailatul Qadar terdiri dari dua kata yaitu lailah dan al qadr , yang secara bahasa lailah berarti hitam pekat atau malam. Sedangkan al qadr artinya kemuliaan atau penetapan, yang secara bahasa adalah suatu malam kemuliaan atau malam penentuan. 


Keutamaan Malam Lailatul Qadar 

1. Diampuni dosanya

Siapapun yang beribadah pada malam lailatul qadar, dia akan diampuni dosanya. Rasulullah SAW. Artinya, ”Siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan dilandasi iman dan keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu .”


2. Nilai Pahala yang Dilipatgandakan

Malam Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yang besar karena pada malam tersebut, pahala amal ibadah dilipatgandakan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad saw bersabda bahwa pahala berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala adalah pengampunan dosa-dosa yang telah lalu. Begitu juga dengan shalat pada Malam Lailatul Qadar, pahalanya sama dengan shalat selama seribu bulan.


3. Dikabulkan Doanya

Malam Lailatul Qadar menjadi waktu yang sangat istimewa untuk memohon rezeki dan ampunan dari Allah swt. Dalam suasana yang penuh khusyuk dan kesungguhan, umat Islam mempunyai kesempatan untuk berdoa kepada-Nya, agar doa-doa mereka dikabulkan, rezeki yang dilimpahkan, dan dosa-dosa mereka diampuni.



Referensi: Baznaz

https://www.baznasjabar.org/news/makna_malam_lailatul_qadr_dan_keutamannya