Tuesday, January 20, 2026

Proporsi antara Ikhtisar dan Tawakal


 Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalAllâh kepada Allâh, sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya) [Ali 'Imrân/3:159].


Tawakkal adalah termasuk amal yang agung dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakal

Di sisi lain, agama Islam sangat menganjurkan dan menekankan keutamaan berusaha mencari rezki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga

Bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus menyebutkan keutamaan ini dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ

Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)”

Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan tawakkal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezki yang halal. Bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal merupakan pelanggaran terhadap syariat Allâh Azza wa Jalla, yang menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allâh Azza wa Jalla .

Referensi : almanhaj

https://almanhaj.or.id/14671-tawakal-dan-usaha-bertentangan-2.html

0 comments:

Post a Comment